Akhirnya ku hanya memiliki-Mu
Dalam hidupku kini
Dan akhirnya hanyalah tentang diri-Mu
Yang meyakini setiap langkahku
Setelah aku menafikkan diri-Mu
Setelah aku meninggalkan-Mu
Ya Tuhan ku ampuni segala dosaku
Tunjukkan ku jalan kembali untuk-Mu
Ya Tuhan ku rahmati segala langkahku
Agar ku temukan indahnya cinta-Mu
Ku sadari hanyalah pada diri-Mu
Ku 'kan temukan cinta sejatiku
Ku sadari hanyalah tentang diri-Mu
Yang mendamaikan seluruh jiwaku ..
~ Ungu
source: http://kumpulan-lirik-lagu-indonesia.blogspot.com/2008/09/lirik-lagu-doa-yang-terlupakan-ungu.html
Saturday, October 31, 2009
Sunday, October 25, 2009
(antara beberapa) Tips menjaga Iman
* this article is a little too "indonesian", but i think it's still graspable*
Jika iman naik turun sehari-hari itu biasa, asalkan, sebagaimana dicontohkan para sahabat, secara garis besar grafiknya menaik sampai puncaknya saat nyawa kita diambil kembali oleh Pemiliknya.
Artinya turun sedikit karena tidak disengaja ya apa boleh buat, istighfarlah karena pintu taubat Allah sangat luas. Namun sesudah itu, ‘ibadah dan ‘amal shalih harus dipacu dengan perbaikan yang melesatkan iman lebih tinggi dari sebelumnya.
Berikut ini sejumlah tips praktis harian untuk memelihara grafik besar iman untuk terus meningkat.
1. Kata terakhir dan kata pertama.
Pastikan bahwa ‘Allah’ adalah kata terakhir yang terucap sebelum Anda terlelap, begitu juga kata yang pertama terucap saat Anda terbangun. Mudah-mudahan cara ini akan mendorong Anda untuk mengisi waktu diantara kedua saat itu dengan sebanyak mungkin mengingat Dia.
2. Bangun malam hari.
Hal pertama berwudhulah, dan shalatlah dimalam hari sendirian. ‘Umar ibn Kahattab (semoga Allah meridhainya) selalu minta disediakan secawan air di sebelah tempatnya tidur. Begitu terbangun, tangannya dibasahinya dan diusapkannya ke wajahnya, untuk langsung bangkit berwudhu dan shalat.
3. Bukalah Al-Qur’an di tengah malam.
Bacalah pelan-pelan di malah hari sendirian, baca terjemahannya, resapi maknanya karena itu disampaikan Allah khusus untuk Anda.
4. Bangunkan orang lain.
Sebelum subuh bangunkan anggota keluarga Anda yang lain dengan lemah lembut untuk melakukan hal yang sama dengan anda.
5. Shalat subuh berjama’ah.
Bagi laki-laki shalat subuh di masjid hampir-hampir wajib. Sampai Rasulullah berkata, untuk orang munafiq, shalat berjama’ah di masjid yang paling berat adalah ‘isya dan subuh. Ada saja alasan untuk menghindarinya. Bagi perempuan, shalat berjamaah di rumah pun baik.
6. Bacakan ayat dan hadits.
Pilihkan satu ayat Al-Qur’an dan satu hadits Rasulullah kepada orang-orang di rumah Anda sebagai hadiah pertama di pagi hari. Jadikan ayat dan hadits itu bahan obrolan pertama Anda sebelum berbincang tentang hal lain.
7. Baca sirah nabi.
Usahakan membaca satu atau dua halaman sirah Rasulullah di pagi hari untuk menambah kecintaan dan keshiddiqan kita kepada Muhammad Nabiyullah yang namanya kita sebut dalam syahadat keIslaman kita.
8. Sebelum keluar rumah.
Jangan lewati pintu rumah untuk berangkat bekerja atau menuntut ilmu urusan lainnya, sebelum tawakkal kita hanya kepada Allah dalam segala urusan. Ucapkan Bismillahittawakkaltu ‘ala Allahi Laa Hawla wa laa quwwata illaa billahi.. Dengan nama Allah aku bertawakkal (menggantungkan semua urusanku) hanya kepada Allah, tidak ada kemampuan dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
9. Mendengar Al-Qur’an.
Usahakan tetap mendengar lantunan bacaan Al-Quran kemanapun Anda pergi hari ini, baik dari alat elektronik yang bisa Anda setel, atau dari senandung Anda sendiri dari hafalan maupun bacaan Anda.
10. 24 jam doa.
Ucapkanlah berbagai macam doa sehari-hari (mulai dari masuk kamar kecil sampai doa berkendaraan) yang diajarkan Rasulullah, dengan niat dan tujuan menambah rasa ketergantungan kita hanya kepada Allah. Semakin kita tergantung hanya kepada Allah dalam segala urusan, semakin independen kita dari pengaruh manusia lain, siapaun dia, setinggi apapun jabatannya terhadap kita, sebanyak apapun hartanya dibandingkan dengan diri kita. Begitu Allah melihat bukti bahwa kita hanya bergantung kepada-Nya, PASTI Dia akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain, dan memudahkan semua urusan kita.
11. Kegiatan utamaku shalat
Aturlah agenda harian Anda berdasarkan rotasi 5 waktu shalat. Rancanglah semua agenda kerja dan kegiatan sedemikian rupa, yang membuat Anda sudah berada di tempat menunaikan shalat dalam keadaan berwudhu minimal 15 menit sebelum adzan berkumandang. Rasakan berkah demi berkah akan dilimpahkan kepada Anda.
12. Wudhu sempurna.
Peliharalah wudhu Anda selama mungkin. Berwudhulah dengan sempurna. Perhatikanlah air yang mentes dari kulit wajah dan bagian-bagian tubuh Anda, saksikan dosa-dosa Anda bercucuran bersama air itu.
13. Shalat terakhir.
Laksanakan shalat seakan-akan itu shalat Anda yang terakhir. Hadapkan tubuh Anda lurus-lurus ke arah Ka’bah Baitullah. Tundukkan jiwa Anda di hadapan Allah Pencipta dan Pemelihara Hidup Anda. Ejalah satu demi satu bacaan shalat dengan kerendahan hati dan kehinaan diri di hadapan Allah.
14. Berpuasa.
Lakukan puasa sunnah sebanyak mungkin, karena orang yang berpuasa doanya langsung dikabulkan Allah. Sedangkan doa adalah senjata utama Mu’min.
15. Berinfaq dan bershadaqah.
Apapun bentuk harta yang Anda miliki, itu sepenuhnya hak Allah. Gunakan harta itu sesuai kehendak pemiliknya yang sejati. Perbanyak shadaqah dan berinfaq untuk menunjukkan kepada Allah, bahwa harta yang ada pada kita sama sekali tidak mengganggu kesadaran kita, “bahwa ini semua milik Engkau ya Allah.”
16. Bersahabat.
Bergaul dan bersahabatlah sebanyak dan sesering mungkin dengan sesama orang yang meiliki iman. Dahulukan iman, ibadah, ilmu dan amal shalih sebagai kriteria kita memilih atau tidak memilihnya menjadi teman apalagi sahabat karib. Bila bergaul dengan orang yang masih lemah iman, atau bahkan kafir, pasanglah niat yang kuat, bahwa Anda bergaul dengannya dengan tujuan membagi kelezatan iman yang sudah kita rasakan. Kalau ditawari yang lezat-lezat dia menolak, ya tak usah buang-buang waktu menjadi temannya. Karena kata Nabi, di akhirat kita akan hidup bersama dengan teman kita sesama hidup. Wallahu a’lam bishshawwab.
source: http://ramacipta.multiply.com/journal/item/7
Category:
Iman
Friday, October 23, 2009
Cinta dan Tawakkal ..

Oleh Dr. Mohd Asri Zainul Abidin
Saya menulis artikel ini dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekah. Saya datang menyertai rombongan Majlis Agama Islam Perlis bersama dengan Yang Dipertuanya, Raja Muda Perlis. Setelah pulang dari United Kingdom, saya dilantik menjadi Ahli Majlis Agama Islam Perlis yang dahulu saya berada dalamnya atas kapasiti Mufti. Sekarang saya berada dalamnya atas individu saya sahaja. Majlis Agama Islam Perlis membuat lawatan kerja ke beberapa negara; Arab Saudi, Mesir dan Tunisia.
Rasanya hampir dua tahun saya tidak ke Madinah dan Mekah. Seperti orang lain, setiap kali masuk semula ke Madinah jiwa menjadi sayu, syahdu dan rindu. Tidaklah dapat digambarkan dengan bahasa dan bicara, perkataan dan tulisan. Ia satu perasaan yang menerjah ke setiap penjuru jantung dan urat nadi. Apa tidak, di sinilah tempat insan yang amat kita cintai yang namanya kita sebut saban, Muhammad SAW. Bagindalah pemimpin, baginda teladan. Kita ini rela menderita, rela dihina, rela dianiaya, rela dipersenda demi memenuhi cinta kepadanya dan agama yang dibawanya.
Kita akui jalan bagindalah jalan yang terbaik dan kita membenci setiap bidah yang cuba ditokok tambah, atau khurafat yang cuba dipalitkan kepada agama yang dibawa baginda, kerana hidup kita hanya mengiktiraf baginda sebagai rasul yang akhir.
Demikianlah Allah mengingatkan kita:
(maksudnya) Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani (Surah Ali-’Imran, ayat 31).
Kata al-Hafizd Ibn Kathir (meninggal 774H): “Ayat ini adalah pemutus kepada sesiapa yang mendakwa mencintai Allah tetapi tidak di atas jalan Muhammad. Maka sesungguhnya dia adalah pendusta atas apa yang didakwanya, sehinggalah dia mengikuti syariat Muhammad dan agama nabawi dalam semua perkataan, perbuatan dan hak ehwalnya seperti yang pasti dalam Sahih al-Bukhari daripada Rasulullah SAW: Sesiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak di atas petunjuk kita, maka dia ditolak” (Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-’Azim, 1/366, Beirut: Dar al-Ma’rifah).
Madinah
Walaupun Madinah telah berubah wajahnya dengan bangunan yang jauh lebih indah dan moden, tidak lagi seperti zaman baginda, namun cinta dan rindu tidak pernah dimamah sejarah dan tidak wajar berubah. Kita merindui Madinah bukan kerana bangunannya, tetapi di sinilah tempat perjuangan dan kehidupan insan yang kita cintai. Bak kata Qais yang dianggap gila kerana terlalu mencintai Laila: “Aku merentasi rumah Laila, aku mencium dinding-dindingnya, Bukanlah cintakan rumah itu merindukan kalbuku, tetapi cintakan penghuninya.”
Demikian Madinah, bukan kerana ia Madinah semata-mata, tetapi kerana sejarah perjuangan yang tercatat di dadanya. Rindu dan cinta bersalut dalam jiwa apabila mengenang di sinilah bumi pengorbanan dan perjuangan Rasul yang tercinta. Namun bagaimana mungkinkah cinta dan kasih itu akan lahir jika kita tidak mempelajari dan menghayati sirah perjuangan dan pengorbanan yang agung itu?!
Seperti yang saya pernah sebutkan, hidup ini adalah kembara merentasi benua yang mencabar. Ketakutan dan cabaran menghambat kita di mana-mana. Namun Allah menyediakan berbagai bekalan kekuatan yang jika dihayati, diselami dan dihirup ke dalam urat nadi akan menjadikan insan sabar dan yakin dalam meneruskan kembara ini. Antara bekalan yang disediakan ialah solat, terutama di qiyamullail. Esakan dan tangisan rintihan di malam yang sunyi adalah nikmat yang tidak gambarkan. Airmata rintihan dan pengakuan diri di hadapan Allah atas kelemahan dan dosa, juga pemohonan atau doa agar diberikan limpah kurnia, itu semua adalah kenikmatan yang tidak dapat difahami melainkan sesiapa yang merasainya. Dalam sebak tangisan itulah insan merasai nikmat menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Agung.
Itulah bekalan dalam merempuh cabaran dan dugaan hidup. Demikian juga Ramadan, kedatangannya selalu memberikan kekuatan baru dalam hidup ini. Tangisan dan esakan di kesunyian malam ketika sendirian, maka tanpa riyak dan ujub, membawa kekuatan kepada diri insan dalam menerusi agenda perjalanan hidup. Begitulah juga, haji dan umrah. Segalanya apabila ditunaikan dengan jiwa yang merendah kepada Allah, lidah yang memohon ampun dan kurnia, ia adalah bekalan kekuatan yang maha ajaib. Hidup ini jika Allah bantu keajaiban akan berlaku. Percayalah kepada doa dan tawakal, di samping berusaha menurut prinsip-prinsip agama. Apabila Allah menolong kita tiada siapa lagi yang dapat melakukan apapun. Pertolongan dan kurnia Allah itu boleh menjelma dalam berbagai rupa dan bentuk, cuma kita yang selalu jahil untuk memahami kemakbulan doa yang pernah diminta.
Ungkapan
Banyak ungkapan doa yang mengandungi erti yang hebat yang diajar oleh Rasulullah SAW. Tidak perlu ajaran tarekat yang sebahagiannya mencipta wirid dan zikir rekaan, sehingga melupai keindahan wirid dan doa yang sahih yang diajar oleh Rasulullah SAW. Antara ungkapan doa yang amat menarik jiwa saya ialah doa yang baginda SAW ajar:
Ya Haiyyum, Ya Qayyum, dengan rahmatMu daku memohon pertolongan. Baikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku ini kepadaku walaupun sekelip mata, (Riwayat al-Nasai, dinilai sahih oleh al-Albani).
Setiap kali ada kesempatan yang baik, di tempat yang baik dan di waktu yang baik, saya sering mengulangnya, walaupun entah kali ke berapa seratus atau ribu sekalipun. Ya! Jika Allah yang menguruskan urusan kita, tentu aturan yang ditentukan itu akan begitu hebat merentasi andaian mana-mana insan. Namun jika hidup ini hanya bergantung kepada orang lain, kita sering menjadi mangsa. Jika bergantung kepada diri semata, banyak perkara yang kita akan gagal mengendalikannya. Namun, apabila kita serahkan agar Allah membantu, tanpa ditinggalkan kita walaupun sekelip mata, keajaiban hidup akan berlaku. Usaha adalah tuntutan kehidupan, namun tawakal yang sebenar adalah jaminan kekuatan dan kesejahteraan. Allah boleh mengatur perjalanan ini apa yang disangka tewas oleh manusia, tetapi kejayaan yang berlaku, apa yang disangka kecewa oleh manusia, tetapi kebahagiaan yang memenuhi jiwa.
Ajaibnya cinta, ajaibnya tawakkal. Semoga Allah tidak meninggal kita semua dalam merentasi kehidupan ini!
- Penulis ialah bekas mufti perlis.
Thursday, October 22, 2009
Mengingati Awal dan Akhir Manusia di Arafah.
*an entry sempena musim Haji 1430H.*
Manusia dilahirkan ke dunia. Hidup di dalamnya. Berbuat dosa dan meraih pahala di atasnya. Suatu saat nanti, manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Disana, tidak akan ada perbedaan warna kulit, suku, etnis, ataupun status sosial. Semua dikumpulkan untuk menunggu perhitungan akan amal ibadah mereka. Yang akan selamat, adalah mereka yang bertakwa.
Awal dan akhir manusia ini adalah perenungan penting dalam melakukan rukun utama ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Begitu pentingnya ibadah yang berakhir pada Hari Raya Idul Adha ini, sampai Rasululah SAW bersabda, ‘Al-Hajju Arafat!’ yang berarti, Haji adalah Arafah. Tidak sah ibadah haji tanpanya.
***
Awal
Ketika Nabi Adam diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, Malaikat berkeberatan, menilai manusia hanya akan membuat kerusakan di dalamnya. Namun kemudian Allah SWT mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam, dan beliau mampu menyebutkannya kembali dengan lengkap. Maka malaikat pun bersujud kepadanya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan ia menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Sayangnya, setelah Allah SWT menciptakan Hawa sebagai teman Adam, mereka berdua terperdaya hasutan syetan dengan memakan buah khuldi yang diharamkan. Allah SWT lantas menyuruh mereka berdua turun dari surga.
“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Baqarah: 38)
Di bumi, Adam dan Hawa terpisah begitu jauhnya sampai akhirnya bertemu di perbukitan kecil Jabal al-Rahmah di Arafah, yang berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan laut. Selama berabad-abad, Arafah adalah padang pasir yang tandus tanpa tumbuhan. Pemerintah Arab Saudi sekarang ini berusaha menghijaukannya dan memasang semprotan air untuk meredam suhu panas sehingga tidak terlalu terik.
pic: Jabal Rahmah, Makkah Al-Mukarramah.
Di atas pasir-pasir gurun ini, Bapak dan Ibu umat manusia ini bertaubat kepada Allah SWT. Memohon ampun atas kekhilafan dan kesalahan. Allah SWT menerima taubatnya. Dengan rahmatNya, kemudian Adam dan Hawa berkeluarga dan menciptakan kehidupan sosial pertama di dunia.
Selama melakukan wukuf, jemaah haji yang berada dianjurkan untuk merendahkan hati dan memohon ampun atas setiap kesalahan. Dalam pertaubatan tersebut, para jemaah merenungi sejarah penciptaan. Untuk tujuan apa manusia diciptakan. Sehingga dalam hati mereka tercipta pertanyaan, “Apakah itu yang sudah saya laksanakan?”
***
Akhir
Wukuf di Arafah merupakan simulasi untuk berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar nanti. Para jemaah tidak boleh mengenakan pakaian selain kain berwarna putih yang tak terjahit. Menandakan kesederhanaan dan kebersihan di hadapan Allah SWT. Di Padang Pasir yang panas dan gersang tersebut, para jemaah hadir sebagai bentuk kepatuhan mutlak kepada Allah SWT.
Wukuf artinya berdiam diri. Maka Wukuf di Arafah artinya adalah berdiam diri di Arafah selama beberapa waktu. Waktu dimulainya wukuf adalah 9 Dzulhijjah dan berakhir pada Hari Raya Idul Adha, tepatnya setelah matahari tergelincir sampai menjelang pagi hari. Waktu-waktu tersebut digunakan untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya.
Puncak ibadah ini adalah Khutbah Wukuf. Isinya tidak pernah berganti, yaitu khutbah Rasulullah SAW pada saat beliau menjalankan Haji Wada’ (Haji Terakhir) pada Tahun 10 Hijriyah. Tidak kurang dari seratus ribu jemaah ikut dalam rombongan tersebut.
Rasulullah yang kala itu berpidato dari atas untanya, mengawalinya dengan menyeru “Wahai Manusia!” yang berarti, khutbah ini ditujukan untuk seluruh manusia, bukan umat Islam semata. Lalu Nabi SAW menyampaikan sebuah pesan kemanusiaan yang universal:
"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang kulit berwarna, kecuali karena takwanya.”
Beliau juga menegaskan bahwa sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya, dirampas hartanya, dan dicemarkan kehormatannya. Khusus untuk kaum wanita, Rasulullah berpesan kepada para laki-laki, "Aku wasiatkan agar kalian mempertahankan kaum wanita dengan sebaik-baiknya."Yang merupakan suatu bukti, bahwa Islam mendudukkan wanita dalam posisi yang mulia.
semoga mereka2 yang telah/akan pergi menunaikan haji di kurniakan dengan kemudahan utk menjalankan ibadah serta mendapat haji yang mabrur..Amin :)
(doakan aku dpt pegi haji secepat mungkin gak!!)
Subscribe to:
Posts (Atom)