Friday, March 11, 2011

Orang-orang yang didoakan oleh para malaikat


Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang -
orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" –QS Al Anbiyaa' 26-28.
Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa `Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada
dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya `Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin `Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah
kekosongan di dalam shaf).

Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib
wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan `Amin' ketika seorang Imam selesai
membaca Al Fatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca `ghairil maghdhuubi `alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian `aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satun diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, `Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106,
Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat subuh dan `asar secara berjama'ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat subuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat `ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang
hari (hingga shalat `ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, `Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, `Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka
ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat
yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata `aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya
kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, `Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, `Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari `Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000
malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang
yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :
Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl
Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005
Oleh : Yovi Adrianto

Tuesday, March 8, 2011

Konsep Tasawuf Menurut Kacamata Ahli Sufi

* Dipetik dari artikel tulisan:
Oleh: Dr. Abdul Manam bin Mohamad al-Merbawi**
Universiti Darul Iman Malaysia

Pendahuluan

Tasawuf merupakan satu cabang ilmu keislaman yang sudah diakui kebenarannya. Dari segi penamaan, ia ternyata baru muncul dalam dunia Islam. Namun hakikatnya tasawuf itu sudahpun wujud di zaman Nabi s.a.w. dan lebih dikenali dengan nama ilmu ihsan, ilmu nafi`, ilmu batin atau ilmu di dalam hati (fi al-qalb). Nama tasawuf hanya mula muncul di zaman pengkelasan ilmu. Ilmu ini semakin hari semakin dipinggirkan, bahkan ia merupakan ilmu yang mula-mula ak
an pupus dari jiwa manusia. Mengenai ilmu ini `Ubadah bin Samit menjelaskan “sekiranya engkau ingin tahu, akan aku khabarkan kepadamu ilmu yang mula-mula diangkat dari manusia, iaitu al-khusyu`”. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai ilmu tasawuf tersebut dengan memberikan tumpuan kepada konsep dan kedudukannya dalam Islam, cara mencapainya dan juga peranannya.

Kedudukan Tasawuf Dalam Islam

Tasawuf adalah maqam ihsan. Ia merupakan sebahagian dari tiga bahagian utama agama iaitu islam, iman dan ihsan. Ketiga-tiga rukun agama ini dapat dilihat dengan jelas dalam hadis Jibril a.s. Ketika Jibril a.s. datang menemui Nabi s.a.w. dalam rupa seseorang yang tidak pernah dikenali oleh para sahabat, beliau telah mengemukakan beberapa pertanyaan mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Pertanyaan itu sebenarnya merupakan suatu perkhabaran iaitu bertujuan mengkhabarkan kepada umat tentang rukun-rukun agama. Perkara ini dapat dilihat di mana Nabi s.a.w. menjelaskan bahawa “ Dialah Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan kepada kamu tentang agama kamu”.

Dari penjelasan Nabi s.a.w. terhadap pertanyaan Jibril jelas menunjukkan bahawa Islam itu merujuk kepada amalan lahiriah iaitu perlaksanaan terhadap perintah-perintah agama yang berpaksi pada lima rukun utamanya iaitu shahadah, solat, puasa, zakat dan haji. Iman pula merujuk kepada keyakinan hati terhadap rukun-rukun iman yang berpaksi pada enam rukun utamanya itu kepercayaan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhirat dan qada’ serta qadar. Manakala ihsan pula merujuk kepada amalan batin manusia iaitu penyaksiaan hati terhadap hadrat ilahi. Oleh itu islam melibatkan anggota lahiriah manusia, iman pula melibatkan anggota dalaman manusia iaitu hati, manakala ihsan pula merupakan gerak jiwa manusia.

Iman itu boleh diumpamakan sebagai tapak binaan, islam itu sebagai binaan asas, dan ihsan itu pula ialah pelengkap, penyempurna dan penyeri binaan. Tanpa iman, binaan tidak akan terbina kerana ketiadaan tapak. Tanpa islam, bererti hanya memiliki tapak tanpa ada binaan. Tanpa ihsan, bererti hanya memiliki tapak dan binaan asas tanpa pelengkap dan penghiasnya. Kesempurnaan hanya tercapai dengan ketiga-tiga perkara itu. Memiliki tapak semata-mata tanpa ada bangunan menjadikan seseorang itu merasai keperitan kepanasan matahari dan kesejukan hujan. Demikian juga orang yang hanya beriman tanpa melaksanakan tuntutan islam akan diazab di akhirat sekiranya dosa-dosanya itu tidak diampunkan Allah, namun kesudahannya dia tetap ke syurga juga kerana keimanannya itu. Memiliki tapak dan binaan asas pula menjadikan seseorang itu dapat berteduh namun tempat berteduhnya itu tidak sempurna kerana tidak memiliki kelengkapan dan hiasan, malahan seringkali terdedah kepada kecurian. Demikian juga orang yang beriman dan melaksanakan tuntutan islam tetapi tidak berihsan, amalan yang dilakukan itu kurang sempurna malahan kadang-kadang amalan tersebut tidak diterima dan mengundang kemurkaan Allah. Perkara seumpama inilah yang dapat dilihat pada firman Allah yang bermaksud “celakalah bagi orang yang bersolat”.


Tasawuf sebenarnya merupakan saripati atau jiwa agama. Dengannya agama itu dapat dirasai kebenaran dan kemurniannya. Ia merupakan penyempurna kepada agama itu sendiri di mana ia memberikan nilaian tambahan terhadap keimanan dan keislaman. Dalam hal ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “iman yang paling utama ialah bahawa engkau mengetahui bahawa Allah itu menyaksikan engkau di mana sahaja engkau berada”. Hadis ini menunjukkan bahawa iman itu mempunyai tingkatan yang berbeza, dan tingkatan iman yang paling utama ialah iman yang didasari atas pengetahuan dan penyaksian terhadap hakikat tilikan Allah serta taklukan sifat-sifat-Nya terhadap diri manusia. Inilah yang dikatakan ihsan seperti yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. yang bermaksud “ihsan itu ialah engkau beribadah kepada Allah seolah-olahnya engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat engkau”.

Kesan-Kesan Tasawuf
Tasawuf selalu dilihat sebagai sesuatu yang bersifat peribadi. Memang benar tasawuf itu bersifat peribadi kalau ia dilihat dari segi intipati atau hakikat tasawuf itu. Namun tasawuf itu mempunyai kaitan rapat dengan perkara-perkara lain yang tidak dapat dipisahkan dan mempunyai natijah serta kesan yang tertentu hasil dari pencapaiannya. Secara umumnya, pencapaian tasawuf itu akan mewujudkan, memperteguhkan dan mengharmonikan dua bentuk hubungan iaitu hubungan dengan Allah sebagai pencipta dan pentadbir alam ini dan hubungan dengan manusia sebagai penghuni dan pemakmur dunia ini.

Hakikat ini dapat diperhatikan kenyataannya dalam satu riwayat di mana Nabi s.a.w. pernah ditanya oleh para sahabat mengenai orang yang paling afdal dan tinggi darjatnya di sisi Allah pada hari kiamat. Nabi s.a.w. menjawab “iaitu orang-orang yang banyak zikirnya terhadap Allah”. Ternyata bahawa zikir yang merupakan kekunci penting dalam usaha mencapai tasawuf itu menjadi ciri utama bagi orang yang dikira sebagai paling utama dan tinggi darjatnya di sisi Allah pada hari kiamat. Dengan tercapainya tasawuf itu akan membuahkan berbagai ahwal, maqamat dan amalan yang dengannya seseorang itu mendapat kemuliaan dan mencapai ketinggian darjat di dunia dan juga di sisi Allah. Antara kesan-kesan tasawuf itu ialah:

1-Memperteguhkan keimanan dan membina jatidiri muslim.

Tasawuf berfungsi memperteguhkan keimanan dan keyakinan serta menetapkan pendirian seseorang muslim. Apabila batin manusia bersih dari kekotoran sifat-sifat yang tercela dan dari kecintaan terhadap sesuatu yang lain dari Allah, akan terpancarlah (tajalli) cahaya kebenaran ilahi di dalam hati. Kesannya manusia dapat menyaksikan hakikat kebenaran Allah dan kepalsuan sesuatu yang lain dari-Nya dengan terang dan nyata. Inilah nur yang disebut dalam firman Allah yang bermaksud “maka sesiapa yang dilapangkan Allah dadanya untuk Islam, maka dia itulah orang yang berada di atas cahaya (nur) dari Tuhannya”. Mengenai nur ini Nabi s.a.w. menjelaskan “bahawa nur itu, apabila memasuki hati, ia akan menjadi luas dan lapang (terbuka hijab)”. Iaitu hati yang terhijab dengan pelbagai hijab rohani sehingga ia terhalang dari menyaksikan kebenaran Allah, apabila ia disinari dengan nur ilahi, akan tersingkaplah hijab-hijab tersebut lalu ia dapat menyaksikan kebenaran ilahi.

Nur tersebut membawa kepada peningkatan darjat keimanan dan keyakinan hati serta memperteguhkan pendirian. Dalam keadaan ini, hati manusia tidak lagi dipengaruhi oleh sebab musabab, tidak merasa bimbang dan takut terhadapnya serta tidak lagi meletakkan pergantungan hati terhadapnya. Dia tidak merasa gelisah terhadap sumber-sumber rezeki, persoalan hidup atau mati, susah atau senang, kaya atau miskin, untung atau rugi, dapat atau tidak, menang atau kalah dan sebagainya lagi. Ini kerana hatinya telah menyaksikan dengan terang dan nyata kebenaran kewujudan Allah dan adanya ketentuan (qada’ dan qadar) dari-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Dia berkeyakinan penuh bahawa tidak akan terjadi sesuatu itu kecuali dengan kekuasaan, kehendak, ketentuan dan keizinan dari-Nya. Inilah kewalian yang sebenar-benarnya seperti yang digambarkan dalam firman Allah yang bermaksud “ketahuilah bahawa wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan ke atas mereka dan mereka itu tidak berduka cita”.

Inilah tingkatan iman yang utama iaitu iman yang didasari penyaksian batin terhadap kebenaran ketuhanan Allah. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “iman yang paling afdal ialah bahawa engkau mengetahui (dengan yakin) bahawa Allah menyaksikan dirimu di mana saja engkau berada”. Di sinilah letaknya jati diri seseorang mukmin. Allah memperteguhkan orang mukmin itu dengan keyakinan ini. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahawa “Allah memperteguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang teguh”. Menurut ahli tafsir, kata-kata yang teguh itu ialah kalimat tauhid (La ilaha illallah), iaitu kalimat iman dan taqwa.

2-Menimbulkan kesedaran jiwa

Intipati tasawuf itu ialah benarnya tawajjuh hati ke hadrat ilahi. Permulaan tawajjuh hati itu ialah timbulnya kesedaran jiwa (intibah). Seseorang yang mengalami intibah itu akan menyedari kelemahan, kekurangan dan kesilapan dirinya. Kesedaran inilah yang akan membawa kepada taubat dan usaha memperbaiki dan menyempurnakan diri. Kesedaran ini jugalah yang membangkitkan usaha gigih dalam meningkatkan dan memartabatkan diri. Isyarat ini dapat dilihat dalam al-Qur’an di mana Allah berfirman yang bermaksud “dan orang-orang yang apabila mereka melakukan perkara keji atau menzalimi diri mereka sendiri lalu mereka mengingati Allah, lantas mereka beristighfar terhadap dosa-dosa mereka, dan tiadalah yang mengampunkan dosa-dosa itu melainkan Allah, dan mereka itu tidak berlarutan dalam melakukan apa yang telah mereka lakukan sedangkan mereka mengetahuinya”.

3-Membina keperibadian dan akhlak mulia.

Tasawuf itu dari satu sudut ialah pencapaian akhlak mulia. Akhlak tidak dapat dipisahkan dari tasawuf di mana akhlak itu adalah merupakan buah atau hasil dari tasawuf. Pencapaian tasawuf membawa kepada pembentukan akhlak mulia. Mengenai akhlak ini, Abu Bakr al-Kattani menjelaskan bahawa “tasawuf itu ialah akhlak, sesiapa yang menambahkan akhlakmu, maka sesungguhnya dia telah menambahkan kesufianmu”. Hakikat ini sesuai dengan hadis Nabi s.a.w. yang bermaksud “orang-orang mukmin yang paling sempurna iman ialah mereka yang paling baik akhlak”

Apabila seseorang itu mula merasai hakikat tasawuf dengan sendirinya dia akan berakhlak mulia, kerana pencapaian hakikat tasawuf itu membawa kepada kelembutan hati. Kelembutan hati itulah yang melahirkan berbagai akhlak mulia. Oleh itu semakin tinggi tahap kesufian seseorang itu maka semakin mulia akhlaknya. Nabi s.a.w yang merupakan imam ahli tasawuf adalah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia sebagaimana sabda baginda yang bermaksud “sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

4-Membentuk insan yang bertanggungjawab

Tasawuf itu dari satu dimensi ialah merasai hakikat iman dan mencapai martabat ihsan. Sekurang-kurang martabat ihsan itu ialah seseorang itu merasai dan menyedari bahawa dirinya sentiasa dalam tilikan dan pandangan Allah. Kesedaran inilah yang akan menjadikan seseorang itu merasa bertanggungjawab. Orang yang mengalami kesedaran ini akan merasai bahawa dirinya akan dipersoalkan di hadapan Allah mengenai tanggungjawabnya terhadap dirinya, keluarganya dan juga masyarakatnya. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “perumpamaan orang-orang yang beriman dalam perkara kasih sayang, rahmat merahmati, dan belas kasihan sesama mereka adalah seumpama satu tubuh, apabila satu anggota mengadu kesakitan maka seluruh anggota yang lain akan merasainya dengan tidak dapat tidur malam dan demam”.

Dalam satu riwayat, Nabi s.a.w. ada menjelaskan bahawa “iman itu ada lebih dari enam puluh tiga cabang, yang paling tinggi ialah ucapan La ilaha illallah, yang paling rendah ialah membuang sesuatu yang menyakiti di jalanan, dan sifat malu merupakan salah satu cabang iman”. Kemantapan dan kemurnian iman hasil dari pencapaian tasawuf akan menimbulkan rasa prihatin dan tanggungjawab terhadap orang lain. Timbulnya dorongan untuk tidak menyakitkan orang lain dan membuang sesuatu yang boleh menyakitkan mereka seperti yang disebut dalam hadis adalah merupakan hasil dari kemurnian jiwa atau tercapainya tasawuf.

5-Mewujudkan persaudaraan, perpaduan, dan sifat rahmat sesama manusia

Tasawuf itu dari satu sudut merupakan peningkatan tahap keimanan dan kesempurnaannya. Apabila tasawuf itu dicapai dan dirasai hakikatnya ia akan menimbulkan suatu keadaan kejiwaan di mana seseorang itu merasa kasih dan bertanggungjawab terhadap semua manusia dan juga makhluk-makhluk lain. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “tidak beriman seseorang kamu itu sehinggalah dia mengasihi untuk saudaranya apa yang dikasihinya untuk dirinya sendiri”. Demikian juga Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain adalah seumpama binaan di mana sebahagiannya memperteguhkan sebahagian yang lain”.

Penutup

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa tasawuf itu sebenarnya merupakan pencapaian martabat ihsan yang merupakan jiwa agama. Ia adalah satu dari tiga tunggak utama agama Islam. Pencapaian martabat ini bukan sahaja memperteguhkan hubungan seseorang itu dengan Tuhannya dalam bentuk peningkatan nilai keimanan, ibadah dan akhlak, malah juga hubungannya dengan sesama manusia dalam bentuk kewujudan rasa hormat menghormati, tanggungjawab dan keharmonian muamalah.

* Tajuk ini adalah salah satu tajuk kertas kerja yang pernah dibentangkan di Seminar Kebangsaan Kefahaman Taswwuf Nusantara anjuran Persatuan Pelajar Usuluddin UDM dengan kerjasama Majlis Agama Islam dan Adat Melayu Terengganu pada 13 Februari 2006. Ketua Pengarah seminar ini adalah saya sendiri. Sebarang persoalan sila hubungi saya.

** Merupakan salah seorang pensyarah di Universiti Darul Iman Malaysia dalam matapelajaran Tasawuf. Beliau juga adalah khalifah bagi tarikat Qadariyah Wal Nadsyabandiyah.

Wallahualam.






Tuesday, February 1, 2011

Lima syarat untuk membuat maksiat

Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata,“Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat.” Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata, “Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan maksiat.” Lelaki itu dengan tidak sabar-sabar bertanya. “Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?”
Ibrahim bin Adham berkata, “Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.” Mendengar itu dia mengerutkan kening seraya berkata, “Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?”. “Ya!” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?”
“Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya!”. Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?” “Ya! Anda benar.” kata lelaki itu.
Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab, “Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”. “Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?” kata Ibrahim.
Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, ‘Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh’.” Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?” “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?”
“Baiklah, apa syarat yang kelima?”. Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.”
Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah.” katanya sambil menangis teresak-esak.

Hikmah dalam tawakkal

Oleh As-Syeikh Ahmad Ridha’ Hasbullah


MENURUT bahasa “tawakkal” itu beerti berserah diri, mempercayakan diri atau mewakilkan. Menurut syariat pula tawakkal beerti “mempercayakan diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu rancangan, bersandar kepada kekuatan-Nya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, berserah diri di bawah perlindungan-Nya pada waktu menghadapi kesukaran”.

Dengan pengertian tersebut dapatlah ditegaskan bahawa tawakkal itu berkaitan dengan suatu rencana yang tetap (keputusan) atau kemahuan (azam) yang disertai dengan ikhtiar melaksanakan rencana itu. Ikhtiar dilakukan dalam memenuhi tertib atau sunatullah sahaja. Namun keyakinan tetap bulat kepada Allah SWT.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Adakanlah musyawarah dengan mereka dalam beberapa urusan, dan bila engkau telah mempunyai ketetapan hati, maka berserah dirilah kepada Allah.” (Surah Ali-Imran: 159)

Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Berpalinglah dari mereka itu, dan berserah dirilah kepada Allah. Dan cukuplah Allah itu sebagai pelindung.” (Surah An-Nisa’: 81)

Berhubungan dengan perkaitan erat antara tawakkal dengan rencana yang matang (ketetapan hati) dan ikhtiar melaksanakan rencana itu, maka adalah sesuatu kekeliruan jika tawakkal itu diertikan sebagai berdiam diri tanpa ikhtiar sama sekali, misalnya mengharapkan sembuh dari penyakit tanpa berubat atau mengharapkan hidup makmur tanpa bekerja.

Banyak dalil dalam Al-Quran dan hadis yang menjelaskan pentingnya ikhtiar, usaha dan bekerja. Dalam berikhtiar itulah proses usaha dan redha menerima “buah” daripada pekerjaan itu, banyak ataupun sedikit. Suatu contoh digambarkan dalam suatu hadis:

“Telah datang kepada Rasulullah SAW seorang lelaki yang hendak meninggalkan unta yang dikendarainya terlepas begitu saja di pintu masjid, tanpa ditambatkan terlebih dulu. Dia bertanya: ‘Ya Rasulullah! Apakah unta itu saya tambatkan lebih dahulu kemudian saya tawakkal, atau saya lepaskan saja dan sesudah itu saya tawakkal? Rasulullah SAW menjawab: ‘Tambatkan lebih dahulu dan kemudian bertawakkallah engkau!” (Riwayat Tirmidzi)

Pernyataan Tawakkal

Tawakkal itu termasuk pekerjaan hati, terpaut di hati dalam menghadapi sesuatu persoalan atau pekerjaan, di mana manusia merasa bahawa dengan kekuatan sendiri tidak akan sanggup menghadapinya tanpa bersandar kepada kekuatan Allah SWT.

Apa yang terpaut dalam hati dengan keyakinan tersebut dipancarkan ke luar dengan mengucapkan ‘hasballah’ sebagai berikut:

Hasbi Allah wa ni’mal wakil
“Allah cukup bagiku dan Ia sebaik-baik Penjaga”

Demikian juga dengan lafaz-lafaz ‘hauqalah’:

Laa hawala walaa quawwata illa billaah
“Tiada daya upaya melainkan dengan kekuatan Allah”

Selain daripada itu dalam hadis ditemukan sejumlah doa dan zikir yang isinya mengandungi pernyataan tawakkal kepada Allah dalam menghadapi urusan penting dan keadaan genting.

Salah satu kaifiat tawakkal dalam menghadapi suatu rencana penting yang masih samar hasilnya, apakah kelak membahayakan ataukah menguntungkan dunia dan agama, ialah dengan cara solat istikharah, mengerjakan sembahyang dua rakaat kemudian mengucapkan doa istikharah, mohon kepada Allah agar dipilihkan dan ditakdirkan mana yang lebih baik dan bermanfaat bagi dunia dan agama kemudian redha menerima keputusan apa saja yang berkaitan dengannya.

Perintah Bertawakkal dan Bidang Penerapannya

Bertawakkal dalam segala urusan bukan hanya termasuk antara sikap rohani yang baik dan terpuji, bahkan ianya memang diperintahkan oleh Allah SWT. Tawakkal adalah satu manifestasi keyakinan kepada kekuasaan Allah SWT bahawa hanyalah Allah yan berkuasa berbuat sesuatu, sedangkan makhluk tidak berkuasa dan lemah sekali, di mana pada setiap ketika memerlukan pertolongan Allah SWT:
“Dan bertawakkallah engkau kepada Tuhan yang hidup, tiada mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (Al-Furqan: 58)

Firman Allah yang bermaksud:

“Dan kepada Allah-lah hendaknya berserah diri orang-orang yang beriman.” (Ibrahim: 11)

Penerapan tawakkal pada prinsipnya meliputi segala urusan dan pekerjaan yang baik dan segala keadaan yang sulit. Salah satu di antaranya ialah dalam melaksanakan sesuatu perancangan yang sudah matang dalam suatu usaha, pembangunan, perjuangan dan sebagainya. Apabila hati telah padu dan jitu dalam melakukan sesuatu, maka selainnya diserahkan kepada ketentuan Allah jua. Dia Yang Maha Berkehendak dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu:
“Apabila engkau telah mempunyai ketetapan hati (azam) maka bertawakkallah kepada Allah.” (Ali-Imran: 159)

Demikian juga dalam kegiatan ekonomi, berusaha mencari rezeki untuk memenuhi keperluan hidup hendaklah disertai pula dengan tawakkal, sesuai dengan pernyataan Al-Quran:

“Tiap-tiap yang melata di muka bumi ini sudah ditentukan Allah rezekinya. Dia mengetahui kediamannya dan tempat penyimpanannya.” (Hud: 6)

Sewaktu menghadapi musuh dalam peperangan, setelah mempersiapkan alat-alat perlengkapan perang, pengetahuan taktik dan strategi haruslah disertai dengan kekuatan mental, berupa tawakkal kepada Allah SWT. Di sebalik kekuatan alat-alat, otot dan otak harus dilandasi dengan kekuatan hati yang penuh tawakkal. Demikian sikap tawakkal ini telah dihayati oleh tentera Islam dalam peperangan-peperangan antara lain dalam perang Ahzab.

“Dan tatkala mukminin melihat golongan-golongan (masuk Islam) itu, mereka berkata: ‘Inilah dia apa yang dijanjikan kepada kita oleh Allah dan Rasul-Nya, dan benar Allah dan Rasul-Nya. Dan tiadalah menambah bagi mereka melainkan Iman dan penyerahan diri (kepada Allah).” (Al-Ahzab: 22)

Dalam bidang politik untuk mencapai kemenangan perjuangan Islam, umat Islam wajib berjuang mengatur pula politik dalam menghadapi lawan, seraya bertawakkal kepada Allah SWT:

“Dan jika mereka mahu menipumu, maka sesungguhnya cukuplah bagimu Allah. Ialah yang teguhkan dengan pertolongan-Nya dan dengan mukminin.” (Al-Anfal: 62)

Sewaktu menghadapi bencana dan bahaya yang akan menyerang diperlukan bertawakkal, seraya melakukan segala persiapan yang diperlukan untuk menolak bahaya itu. Misalnya ketika kaum muslimin di zaman Rasulullah dihasut untuk dihancurkan oleh tentera musuh yang besar jumlahnya. Mereka sedia bertempur seraya berkata: “Hasbunallah wa ni’mal wakill” (cukuplah bagi kami Allah SWT dan sebaik-baik Pemelihara).

Suatu contoh lagi di kala menjangkitnya wabak, di samping mengambil langkah-langkah pencegahan (tindakan berjaga-jaga) ia hendaklah disertai juga dengan tawakkal. Suatu peristiwa terjadi di zaman Khalifah Umar. Rombongan sahabat yang menuju Syam mendengar berita berjangkitnya wabak taun di negeri yang dituju itu. Dalam rombongan timbul dua pendapat, sebahagian ingin meneruskan perjalanan dan sebahagian lagi ingin pulang.

Umar bin Khattab memutuskan pulang. Tetapi timbul pertanyaan yang menentang: “Apakah anda akan melarikan diri dari takdir Allah SWT?” Umar menjawab: “Ya, lari dari takdir Tuhan kepada takdir Tuhan juga.” Diberikan perbandingan jika mempunyai ternakan di mana tersedia dua bahagian, yang satu kering dan yang lainnya subur, tentu saja lebih baik memilih bahagian yang subur. Perkara ini menunjukkan bahawa ikhtiar menghindari penyakit (tindakan berhati-hati) perlu dilakukan, seraya bertawakkallah kepada Allah. Pendapat Umar ini diperkuat oleh sabda Nabi yang disampaikan oleh Abdurrahman bin Auf:

“Apabila kamu mendengar penyakit berjangkit terjadi di suatu negeri, maka janganlah kamu datang ke tempat itu. Dan kalau kamu sedang berada dalam negeri yang tengah berjangkit penyakit menular itu, maka janganlah kamu keluar dari negeri itu, kerana hendak melarikan diri.” (Riwayat Bukhari)

Bertawakkal di kala menghadapi bahaya ditunjukkan pula oleh Nabi Ibrahim AS ketika akan dicampakkan ke dalam api oleh orang kafir, dengan membaca: “Hasbiyallahu wa ni’mal wakil.”

Dalam pada itu di kala hendak tidur, di mana seseorang akan kehilangan kekuatan dan tidak tahu apa yang akan terjadi sepanjang waktu tidur itu, maka hendaklah bertawakkal kepada Allah, mempercayakan diri dalam perlindungan-Nya, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

“Ya Allah, aku menyerahkan diri kepada-Mu, dan aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, dan aku menyerahkan kekuatanku kepada-Mu, kerana takut dan cinta kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat lari daripada-Mu melainkan kepada-Mu. Aku percaya kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.” (Riwayat Bukhari)

Bagi seseorang yang keluar rumah, maka banyak perkara yang akan ditemui dalam pelbagai urusan. Mungkin ada, yang menyenangkan dan ada pula yang menyusahkan, sebagai sebahagian daripada kehidupan. Sebagai makhluk yang dianugerahi fikiran, sebelum keluar rumah sebaiknya mempunyai pertimbangan, pemikiran dan rencana-rencana yang baik dan kemudian segala sesuatunya dipasrahkan kepada Allah SWT.

Selain ketenangan jiwa, maka tawakkal juga membuahkan sikap syaja’ah, keberanian. Terbukti ketika Rasulullah SAW diacukan dengan pedang oleh Da’tsur (pimpinan orang-orang kafir). Da’tsur menggertak Rasulullah SAW: “Siapakah yang dapat mencegah pedang ini terhadap engkau hai Muhammad?” Dengan sikap tawakkal Rasulullah SAW menjawab tenang: “Allah!” Pedang terjatuh dari tangan Da’tsur, dan tibalah giliran baginda mengambil pedang itu. Sikap tawakkalnya Rasulullah SAW melahirkan syaja’ah dan kemenangan di mana Da’tsur menyaksikan kehebatan Rasul Allah itu, lalu dia memeluk Islam bersama kaumnya.

Kemenangan yang gilang gemilang banyak kali digondol oleh umat Islam berkat tawakkal. mereka yang bertawakkal kepada Allah mempunyai iman yang jitu kepada kekuasaan-Nya. Ingatlah bahawa makhluk semuanya adalah ciptaan Allah SWT, mereka tidak boleh memberi manfaat dan tidak boleh mendatangkan mudarat. Semuanya ditangan Allah SWT. Mudarat dan manfaat dalam genggaman Allah jua. Walaupun semua manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepada seseorang, tanpa izin Allah SWT, mereka tidak boleh berbuat yang sedemikian itu:

“Mereka yang hadapkan perkataan: ‘Sesungguhnya kaum (Quraisy) itu telah kumpulkan (tentera, bagi memerangi) kamu. Lantaran itu hendaklah kamu takut kepada mereka!’ Maka (perkataan) itu menambah iman mereka dan mereka berkata: ‘Allah cukup buat kami dan Ia sebaik-baik penjaga’. Maka kembalilah mereka dengan nikmat dan kurnia dari Allah tanpa ditimpa bencana.” (Ali-Imran: 173-174)

Dalam bidang pencarian rezeki (ekonomi), tawakkal kepada Allah, mendatangkan kecukupan dan rezeki yang tidak terduga-duga:

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Ia jadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan), dan akan diberikan rezeki dari jalan yang ia tidak duga-duga, kerana barangsiapa yang bertakwakkal kepada Allah, nescaya Ia jadi Pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu telah adakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Dalam hubungan ini Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud:

“Andaikan kamu bertawakkal kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, nescaya Allah akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana burung yang keluar pagi dengan perut kosong dan kembali di waktu senja hari dengan kenyang.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Pada saat-saat yang berbahaya, di mana wang dan kawan tidak dapat lagi memberikan pertolongan, Allah dapat menolong dan menyelamatkan orang yang bertawakkal. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa Nabi pernah bersabda:

“Akhir kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim ketika dicampakkan ke dalam api ialah: Hasbiallah wani’mal wakil.” (Riwayat Bukhari)

Allah SWT telah menyelamatkan Ibrahim, tidak sampai terbakar kerana api menjadi sejuk:

“Kami (Allah) berkata: ‘Hai api, jadilah sejuk dan sejahtera ke atas Ibrahim!” (Surah Al-Anbiya’: 69)

Demikianlah hikmat tawakkal yang menghasilkan pelbagai kebaikan seperti ketenangan, keberanian, kemenangan, pertolongan dan perlindungan Allah SWT yang membawa kepada keselamatan.

 


Design by: Blogger XML Skins | Distributed by: Blogger Templates | Sponsored by Application Monitoring